13 Puisi Cinta Romantis : Kekasih Sejati Lenyapkan Sepi

13 Puisi Cinta Romantis : Kekasih Sejati Lenyapkan Sepi

Puisi cinta senandung dalam bait rima romantis gambarkan nuansa patah hati pun ketika sedih menderai. Tautan cinta kekasih bertepuk sebelah tangan, contoh sejati dalam pertalian yang semu dan tidak ada yang patut diharapkan selain kesepian yang tertuang dengan tak sempurna lagi. Kuncup basah dalam selaksa pagi, meranum bunga rekahan. Musabab doa terkabul, dengan sujud mendalam penuh penghambaan.

Kekasih telah mereguk mimpinya sendiri, terbang dengan kenangan yang tak mungkin dicercah lagi. Dengan segenap perumpamaan yang tulus, telak membius ketakberdayaan dengan gumpal caci keserakahan. Dimana lagi kan kuraih malam menyepi, mendegup jantung tak sudah sehari dua.

Kembara Pertalian Rasa

Tertawalah pada sendu
Dalam setiap batas yang tertancap
Sekelam asa yang pernah dijaga
Senafas dua tarikan, melumat sebuah perbedaan

Cinta dalam ketiadaan yang sama, ingin dijaga ditata kesamaannya
Bukan buih beradu bara, panasnya membakar ego diri
Kutau sedalam nyatamu, pelangi tak tumbuh semestinya lagi

Punah tak sudah pertalian rasa, sekalipun pisah terujar pula
Kaki yang tak tau kemana melangkah, mencoba lagi menyeret jalannya
Sekalipun pelana tanpa kuda rasa tak bermakna,
Mencarimu tak letih terus kembara

Ah, kusudahi perlawanan ini
Kecamuk memang membuat remuk
Meski harus pada kesimpulan
Berpisah denganmu kelamnya jalan

By : Medi Iffredista
===========

Sehari Tiga Tangisan

Kita ini serupa rinai hujan
Berbintik jatuhnya menyapa bumi
Bahkan selebihnya kupu-kupu tak terbang dalam sayap
Memulai kembali sebuah luka sayatan pena

Bukan cinta dalam lautan, nuansa tak lalu sejalan
Kutau kedip matahari bukan sinar berkas yang sama
Lewati jalan bertapak, dan kemudian lari dengan sembunyi

Kitalah yang sepatutnya bertanya, kemana arah matamu?
Ragu tak berwarna abu-abu, ia hanya hitam lalu tenggelam
Kalau mau lebih tulus, tak perlu lihai dengan egomu
Cukup memahami, coba memberi dan tak lekas lari walau terkadang sepi.

Dedaun melebam, nampak sekilas pada senja
Tabu dengan larangan, membentang terbayang
Gagu himbau mulutmu, mengkerat dengan rapat
Khawatir tak sudah sehari tiga, berlalu pula pilunya tangisan

Kini, sudah telah punah dalam seteguk cinta
Bergaris duka dengan pongahnya
Engkau pun menari, mengoyak mentari, lalu menelannya di lain hari

Ah.. sebuah batu memanglah keras, itupula yang membawaku pada kegamangan ini
Membiarkanmu kembali, dan membawa kenangan dalam setiap imaji.

By : Medi Iffredista
=========

Gaung Telang : Ketika Rindu Tuntas Dalam Sujudku

By : Medi Iffredista

Gaung Telang ku kini, merayu liar dengan nafasnya
Semerbaklah keranjang cinta, lengkap dengan tangkai-tangkai asa-nya

Berlalu tuah dalam degupan, hadirmu tak semudah tuk diabaikan
Kalaupun cinta lekas berlari, sujud terdalam cara menangkapnya
Bagai menabur benih disebuah senja, kelopaknya terlena mewangi sepanjang hari
Tlah kulempar jala asmara disepertiga malamnya, merenung mendengung

Gaung Telang…….. Bahkan didesa sekecil ini, mentari ada dua
Yang Abadi… Dan dirimu dengan seabadinya pengharapan
Kalaulah mampu ditepis setiap rindu, aku tetaplah merayu
Coba menghalau rasa, dengan pena, dengan sejuta do’a

Gaung Telang kataku, desa se-ranum ini, bidadarinya mewangi, merekah, melepah.
Tak lekas menjadi bunga dalam taman, tak dipisah dengan moleknya bingar kota

Jawaban dari setiap doa telah dituntaskan…
Kini arah telah satu jalan, menatap sebuah layar kehidupan
Kutantang zaman, kugertak ia hingga memberi kami jalan
Kalaupun nantinya ada duri, aku telah siapkan hati
Kalaupun nantinya ada nestapa, kita tegar selalu bersama

Gaung Telang, ketika cintaku bersemi
Ketika nafasku terhenti, ketika suaramu menangkapku

Ψ Catatan hati Medi Iffredista : Menua dalam cinta, tak lekas pergi sekalipun badai melanda (Desa Gaung Telang, Gelumbang, Muara Enim, 14 juli 2017)
=======

Bunga – Bunga Khayalan

 

Khayalku tlah sampai pada tangkai terakhir

Masih ingin bicara ketulusan, nampak sudah linangan air mata

Bukan patah yang dituju

Namun ketika khianat yang didapat, hati mana yang tak berkarat

 

Usah lagi kau tatap jalan ini, pijakan kita tlah berbeda

Aku tlah merelakan ingkarmu, sudahlah…. relakan daku kian menjauh

 

Tuai semua yang kau tanam, jangan sisakan lagi serpihnya

Biarlah tak seiring jalan, ku tak memaksa

 

Bunga cinta yang layu sore ini, pertanda kecewa terlalu dalam

Mungkin nanti akan terberi, cinta suci penghapus nyeri

By : Medi Iffredista

Puisi cinta sejauh yang tak pernah terbayangkan dengan begitu perihnya rasa yang ada dalam dada. Dengan degup jantung yang detaknya kian bertabur getir pahitnya sebuah logika yang seakan menggoda untuk makin dalam diselami. Suara alam nampak tidak begitu harmoni dalam diri. Dengan segenggam asa yang masih terpendam dalam angan, semangat yang tersisa tetaplah kian menyala baranya.

Hanya karena setitik pengkhianatan, bukan berarti telah terkubur semua kepercayaan dan arti kejujuran. Dalam ketakberdayaan, mungkin akan ada secercah cahaya yang menembus ruang hampa dalam penantian. Tak lagi mengingat akan hal-hal yang telah berlalu. Dan kelopak merekah dari sinaran senja. Dari yang tak berdaya, menapak jalan-jalan cahaya. Dari yang biasa saja menuju sebuah hasrat istimewa. Kekhawatiran yang tak berdasar, akan pupus dengan berjalannya waktu.

 

Karena puisi cinta adalah bunga-bunga yang mekar, bunga-bunga yang kian berwarna, bunga-bunga yang semerbak harumnya memancar tak pernah lelah. Bukan memberi manisnya sari pada kumbang-kumbang yang datang, namun ada keindahan dari setiap kelopak yang berjatuhan. Tidak pula ia bersedih dengan pergantian musim. Karena senantiasa ia percaya, akan sebuah musim bahagia yang didalamnya telah dengan mempesona akan menabur benih surga merekah.

Bila suatu saat, barangkali ia lelah dan hendak bersandar pada sebuah taman tak berpenghuni. Mungkin disanalah ia akan merenung dengan perjalanan yang telah ditempuh. Barangkali pula akan ada sebuah cara yang masyhur untuk memperindah sikap dan mewarnai rinai hujan dengan wangi abadi dari dalam diri. Bila pula puisi cinta berlabuh sepi, tak seorang akan meracau dan merusak mimpi.