Kepanjangan LGBT Dan Cerita Pro Kontra Di Belakangnya

Kepanjangan LGBT Dan Cerita Pro Kontra Di Belakangnya

Kepanjangan LGBT serta pemahaman yang pro dan kontra akan hal ini masih terus berlanjut sampai tulisan ini di rilis. Belakangan ini, di beberapa berita nasional maupun internasional, isu LGBT semakin sering di dengar dan nampaknya menjadi salah satu trending topik yang tidak henti di bahas di kalangan masyarakat. Bagi masyarakat yang awam, tentu mereka tidak banyak mengetahui tentang apa itu LGBT. Ya, istilah LGBT memang terkesan ilmiah dan lebih banyak di pahami oleh orang-orang yang berkecimpung di kalangan akademik saja. Lantas, apakepanjangan LGBT tersebut? Nah, kita akan membahas beberapa hal terkait LGBT dan seluk beluknya pada kesempatan kali ini.

Arti LGBT

Lantas, apa arti atau kepanjangan dari LGBT tersebut? LGBT adalah kependekan dari Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender. Keempat hal tersebut di anggap sebagai macam orientasi seksu@l selain heteroseksual atau hubungan laki-laki dan perempuan. Membahas LGBT memang tidak bisa di lepaskan dari pembahasan mengenai seksu@litas. Lesbian adalah orientasi seksu@l dari perempuan yang menyukai sesama perempuan. Dalam konsep ini, perempuan merasa tidak mendapatkan kepuasan seksu@l dari lawan jenis sehingga ia cenderung memilih pasangannya sesama perempuan. Konsep ini tentu saja sama dengan gay. Gay juga merupakan percintaan sejenis yang terjadi di pihak laki-laki. Alasannya pun sama, yakni tidak memperoleh kepuasan seksu@l dari lawan jenis.

Lalu, bagaimana dengan Biseksual dan transgender? Biseksual adalah ia yang memiliki kecenderungan orientasi seksu@l kepada semua jenis kelamin. Seorang Biseksual bisa mendapatkan kepuasan seksu@l dari laki-laki maupun perempuan. Orientasi seksu@l ini di pandang sebagai yang terunik karena pelaku mendapatkan kepuasan seksu@l dari sesama dan berbeda jenis kelamin. Sementara transgender adalah mereka yang mengubah jenis kelamin mereka melalui operasi. Banyak kasus terjadi pada seorang laki-laki yang memiliki pen1s, lantas merasa bahwa jiwanya adalah perempuan sehingga mereka merasa terpenjara di tubuh yang salah. Namun, tentu saja, meskipun si laki-laki mengubah kelaminnya menjadi perempuan melalui operasi, tetap saja mereka tidak bisa hamil.

LGBT: orientasi seksu@l atau penyimpangan?

Topik LGBT memang rawan terhadap perdebatan yang teramat panjang dari kubu yang berseberangan. Nah, kita akan mengulas satu per satu untuk mendapatkan titik terang dari kasus ini. Kubu yang pro terhadap LGBT menganggap bahwa LGBT merupakan keberagaman orientasi seksu@l yang wajar saja muncul di kalangan masyarakat. Seseorang tentu memiliki kebebasan untuk menentukan orientasi seksu@l mereka selagi mereka tidak merugikan orang lain. Pendukung LGBT beranggapan bahwa orientasi tersebut merupakan fitrah manusia sebagaimana hak-hak dasar lainnya, sehingga tidak layak untuk di perdebatkan.

Selain itu, pendukung LGBT juga memberikan bukti bahwa LGBT sudah di hapus dari daftar penyakit oleh WHO sekitar tahun 1980an ada indikasi bahwa sebelum tahun tersebut, LGBT di anggap sebagai penyakit. Argumentasi beberapa pendukung LGBT memang berdasarkan pada kebebasan dan keberagaman. Kebebasan ini nampaknya cukup di pengaruhi oleh menjamurnya humanism yang di awali oleh kebangkitan kembali atau Renaissance di Eropa beberapa dekade yang lalu. Berbekal harus adanya persamaan hak antar masyarakat, pendukung LGBT berkeyakinan bahwa mencintai sesama jenis bukanlah merupakan sebuah kesalahan tetapi hal tersebut adalah sebuah kebebasan untuk mengekspresikan perasaan dan cinta.

Dalam pembahasan kepanjangan LGBT tadi telah di singgung bahwa LGBT di anggap sebagai sebuah fitrah. Kenapa argumentasi ini bisa muncul? Ya, hal ini karena LGBT -sebagai orientasi seksu@l, di anggap merupakan jalan untuk mengekspresikan perasaan dan cinta dimana cinta adalah fitrah dari manusia. Argumen ini secara tidak langsung menyatakan bahwa keberagaman LGBT merupakan produk dari Tuhan saat menciptakan manusia. Selain kebebasan, konsep dari LGBT adalah keberagaman. Kita dapat melihat symbol ini pada bendera pelangi yang di gunakan oleh para pendukung LGBT. Simbol pelangi merupakan alat yang mengkampanyekan bahwa perbedaan yang di satukan akan berbuah keindahan, sebagaimana pelangi yang berwarna-warni. Jika di lihat dari perspektif kemanusiaan, tentu saja akan muncul rasa empati dari para LGBT yang ada di masyarakat. Namun, bagaimana pandangan dari kubu yang kontra dengan LGBT ini?

Secara tegas, kubu yang berseberangan dengan LGBT menganggap bahwa LGBT adalah penyakit. Ya, dalam kepanjangan LGBT,keseluruhan objek merupakan penyakit yang wajib untuk di hindari dan juga di sembuhkan. Kenapa mereka bisa menyatakan bahwa LGBT adalah penyakit?Nah, ada beberapa pandangan yang bisa di jadikan dasar untuk mengcounter pendapat kubu yang pro dengan LGBT. Dari segi kesehatan, LGBT bukanlah sebuah perilaku yang sehat. Gay misalnya, dalam berhubungan memanfaatkan lubang dubur yang kaya akan bakteri. Sementara Biseksual yang memiliki kecenderungan ganti pasangan juga akan rentan terhadap aids.

Di sisi lain, para pendukung LGBT mengatakan bahwa LGBT merupakan fitrah dari manusia. Benarkah demikian? Argumen ini sebenarnya sedikit rancu. Fitrah manusia adalah berkembang biak. Manusia memiliki nafsu dan keinginan untuk mempertahankan eksistensi diri dan juga keluarganya dengan membuat keturunan yang baru. Oleh karena itu, secara fitrah, laki-laki akan mencari perempuan begitu sebaliknya, untuk membuat keturunan. Jika pendukung LGBT mengatakan bahwa keturunan tidak telalu penting dalam pernikahan karena bumi sudah overpopulation, tentu mereka tetap melanggar konsep fitrah manusia sebagaimana di sebutkan sebelumnya.

Selain itu, dalam pembahasan kepanjangan LGBT sebelumnya, di sebutkan oleh pendukung LGBT bahwa Tuhanlah yang menciptakan orientasi seksu@l berikut perasaan dan cintanya pada manusia. Benarkah demikian? Dalam Islam, tentu kita pernah mendengar cerita mengenai kaum Nabi Luth yang di azab karena mempraktekan s0d0m1. Dari cerita ini, dapat kita simpulkan dengan mudah bahwa perilaku s0d0m1 yang di juga di lakukan oleh gay, merupakan perilaku yang di larang. Ada argument menarik dari pendukung LGBT yang mengatakan bahwa cerita Nabi Luth merupakan pelarangan terhadap perilaku seksu@l bukan orientasi seksu@l. Jika orientasi tersebut tidak di salurkan, maka bisa saja tidak apa-apa.

Argumentasi tersebut juga rancu. Ketika seseorang berorientasi, secara naluriah mereka tentu ingin menyalurkan orientasi mereka, termasuk dalam hal seksu@litas. Oleh karena itu, sangat susah di terima jika kisah dari Nabi Luth dianggap bukanlah sebuah fakta konkret terkait penyimpangan LGBT. Dan, jika LGBT dianggap sebagai ciptaan Tuhan, kenapa beragam agama terutama agama samawi, tidak memperbolehkannya? Baru sekarang ini saja seiring berkembangnya liberalisasi agama banyak beberapa orang yang memberikan tafsir baru yang justru bertentangan.

Sikap kita seharusnya

Masalah LGBT bukanlah sebuah masalah yang sepele karena masalah ini terhubung dengan banyak hal. Setelah mengetahui kepanjangan dari LGBT, tentu kita harus tahu bagaimana kita bersikap. Dalam tataran kemanusiaan, kita memang tidak boleh untuk melakukan bullying atau tindakan yang mengancam para penderita LGBT namun bukan berarti kita mengakui eksistensinya secara sah. LGBT tetaplah sebuah penyakit. Sebagai seorang yang beriman, hendaknya pengetahuan kita tidak terbatas pada kepanjangan LGBT saja tetapi bagaimana cara agar rekan kita yang termasuk penderita bisa di sembuhkan dan di kembalikan pada fitrahnya.