Kata Kata Kecewa Karena Sakit Hati

 Kata Kata

kata-kata-kecewaKata kata kecewa sakit hati karena patah hati dan terluka sedalam sepinya malam. Betapa kelam dan lebam hati yang tersayat sembilu. Pedih memang ketika diri dikhianati dan tak ada lagi nurani yang mampu pahami. Ketika pijakan cinta yang tergenggam nestapa telah lepas dari busur busur yang melukai. Telah luka dan membekas makin tak terkendali. Kuatnya hasrat dahulu telah terkubur dan kini memang seakan banyak curam yang terjal basahi jalan kenangan.

Warna tak sejalan lagi. Sepi telah menjadi teman setia. Entahlah, kenapa ia begitu enggan pergi. Pandangan yang tak sama berdua kejar bayangan sendiri. Merasuk mimpi kobarkan api luluhkan diri. Begitu cepat duka menerjang, ketika hati yang mekar tiba-tiba dihujani batu-batu pengkhianatan. Yang tersisa, hanyalah bongkahan retak dalam nurani. Tidakkah ada yang pahami bahwa mungkin mereka anggap diri ini senantiasa salah. Hakikatnya untuk tetap menyayangi namun barangkali mereka lupa, tidak ada manusia yang benar-benar bisa bertahan seorang diri dalam sepi.

Luka menjelma pahit dalam secangkir kopi. Seakan Tuhan berkata “kepergian tetap harus kau nikmati”.

Di ujung senja, seorang wanita asik memarkirkan luka di kelopak matanya.

telah kutemukan jalan paling duka, yang berakhir pada kerisauan di hujan terakhir air matamu.

Aku kerap menemukan hujan. Bukan sebagai sesuatu yang dingin, tapi berwujud kesedihan setiap kali musim kehilangan datang.

hujan cuma tahu bumi ini basah, tapi puisi membuatku untuk belajar tabah meski sedang gundah.

kepergianmu membuat anak anak rinduku semakin dewasa, semoga aku dapat mendekap hikmah. kemudian berkata; nyeri ini, indah.

Sebutlah sajakku ini nisan, tempat kita menziarahi kenangan pada suatu sore yang hujan.

Sajak ini menyimpan kesedihan;
matamu yang laut, dan mataku jatuh menghendaki hanyut.

Sejauh orang-orang bahagia
Dan alamat-alamat yang sembunyi
Ingatan adalah peta buta
Penunjuk arah, untuk hati yang patah

Selamat malam, rindu yang pualam. Yang selalu diziarahi oleh gurindam atau doa yang dalam.

Dengan busur nyeri dan anak panah elegi, aku memanah sepi. Agar luka bisa jatuh cinta lagi.

Kala malam menghampiri, patah hati berdandan rapi. Ia hendak kencan, dengan kesepian yang jadi pujaan.
Buai mimpi yang pernah terjalin mesra, sulit untuk dipahami jika tak sewajarnya cinta yang diterima. Ikhlas memang lahir dari hati, tapi selekasnya akan pergi ketika hanya pengkhianatan yang diberikan olehnya. Setapak sunyinya jalan yang terpintas, ada bekas yang tak mungkin untuk dihapus semudah hujan hilangkan debu diperaduan ini. Air mata yang berurai mungkin akan setia dalam tempatnya dan wanginya kuncup bunga suatu saat akan kembali harumkan dunia.

Aku menemukanmu,
di mataku yang hujan.
ketika luka bertamu,
pada cinta yang bertepuk sebelah tangan.

Tertawalah amnesia! Karena kesedihan hanyalah ingatan-ingatan fana.

Tiap malam, paras kesedihan merias diri dengan puisi, agar rupa sembabnya tak dikenali.

Hidup bak secangkir kopi hitam, pahit-manisnya ada di dalam. Dan kenangan adalah ampas yang tak bisa tandas.

Doa ialah kacamata bagi netra kesedihan yang meraba-raba. Karena terlalu sering membaca lara di redupnya cahaya bernama bahagia.

Mendoakanmu dengan sungguh-sungguh adalah jalan yang kutempuh, usai kesedihan merengkuh

Pada akhirnya cinta adalah bunga-bunga yang mekar, di hati mereka yang menjalani hidup dengan sabar.

Sebelum kehilangan mempertemukan adam dan hawa, kesedihanku, lebih dulu tercipta

Kasih, lihatlah ke langit, atau secangkir kopi. Ia mengguyur hujan, atau cerita paling pahit, setelah perpisahan.

Di dini hari, aku terbangun, bukan karena rindu yang melamun atau pilu yang tertegun, tapi sepi yang mengunggun.

Jika memang tidak ada lagi yang mesti diperjuangkan. Setidaknya ada tunas baru yang siap menjulang angkasa, menebar banyak kebaikan pada manusia. Bukan lagi sekedar insan yang lihainya mendera dengan jutaan janji hampa. Buat mereka yang pandai melukai, tidakkah ada sedikit saja sisa-sisa kebaikan. Bukankah suatu hari nanti, semua akan kembali pada yang melakukannya, entah didunia ini, pun bisa saja dialam sana nantinya.

Hujan di dini hari seperti tetesan air garam, menyirami tubuh lukaku yang menganga dan lebam.

Selamat malam, para penyepi yang kerap menganyam luka, mengenyam lara dengan jemari dan mulut doa.

Lalu kutulis puisi mengambang: antara gelap dan terang dengan tinta darah dari luka yang meradang.

aku tak lain sebuah perahu, menyusuri air berkelok, sebab cinta memberikan pilihan, membiarkan kita mengitari bahagia atau duka

sungguh merindumu layaknya mengasah belati, semakin lama semakin menyayat hati.
mungkin rindu butuh hati yang hati-hati

Ingatanku mengunci semua pintu. Tak ada celah bagi masa lalu, untuk sekadar menitip rindu.

Setiap kali gajian, kebahagiaan selalu sendirian di restoran. dan memesan kesedihan.

pada pagi yang kesekian, sejuk embun jatuh di atas daun. terkadang, kesedihan perlu dinikmati, meski menggigil sendiri.

Rinduku piatu, sejak kau memilih tanggal dari hatiku yang tunggal.

Jika kelak aku harus pergi,
maka izinkanlah aku berdo’a sekali lagi,
untukmu yang pernah menjadi hujan,
di mataku yang sunyi.

Luka telah memiliki aku sepenuhnya. Hingga tiap getar bibir dan kedip mataku; selalu menyimpan nyeri dan air mata.

Lentera sekejap pernah padam, namun bukan untuk masa yang panjang. Pernah pudar bukan berarti tak lagi kan bersinar. Banyak jalan yang mesti tetap untuk ditempuh. Rehat tentang cinta, tak berarti harus berhenti memberi kasih sayang tulus dari diri. Kecewa yang masih terasa nyerinya dalam dada, pada akhirnya akan sirna ketika telah digenggam dengan sempurna sebuah ketulusan suci untuk senantiasa memberi sepenuh hati.

Terkadang, bukan kenangan buruk yang membuatmu bersedih, tapi kenangan indah yang kamu tahu, hal itu tak akan terulang kembali.

Pada akhirnya, kita akan diabadikan kenangan. Itulah kenapa kenangan tak bisa terhapus kecuali oleh hilang ingatan

Ketulusan tidak membuatmu “terbang” saat dapat pujian dan tidak membuatmu “tumbang” saat dihina orang

Apa yang tersembunyi di balik sepi, ialah perasaan-perasaan yang tak utuh: semisal, rindu yang tak tersentuh.

“Selamat tinggal pada sunyi dan kesendirian. Selamat datang dunia yang mau berbunuh diri. Terimalah aku dalam maujud mu”

Hati yang terluka adalah elegi sepi tak berujung. Kisahnya tertelan masa. Ceritanya hilang di kelam malam.

Mungkin sepi adalah jawaban, atas hilangnya rinduku atasmu selama ini.

kau pernah bilang tak perlu membedakan, selamat tinggal dan selamat datang, keduanya tersirat dalam lambaian tangan.

Kau berikanku luka, kala cerita cinta ini berhenti di halaman tengah buku yang kita tulis bersama.

Dia, aku, kamu.
Sebuah buku elegi tentang luka, asmara dan pengkhianatan.

Kita: sepasang pelajar yang tak kunjung pandai. Tentang mata pelajaran: cinta yang berbuah damai atau luka yang berbuah andai.

Lupakanlah! Tidak ada kebahagiaan abadi didunia ini, pun sama, tidak ada kesedihan yang abadi. Semua akan berakhir, entah dengan cara yang cepat atau dengan ragam cara yang begitu pelan. Yang pasti roda dalam kehidupan akan senantiasa dalam ruas jalan yang berputar. Terkadang ada didepan kita mereka yang dahulu mengkhianati namun ujungnya akan senantiasa berakhir dengan mereka yang jauh tertinggal dibelakang.

Setiap pagi yang dijejali hujan, menyisakan noda kerinduan di rerumputan. Jejaknya membuihkan rasa berkepanjangan, tanpa henti.

kubiarkan angin yang pucat
dan tak habis-habisnya gelisah
tiba-tiba menjelma isyarat merebutmu
entah kapankah bisa kutangkap

Cewek paling pinter nyembunyiin perasaan, tapi paling ngga bisa kalo nyembunyiin kekecewaan.

Lelaki itu yang diutamakan adalah tanggung jawabnya, bukan yang suka nebar kasih sayang terus ngilang.

Mencintai sewajarnya dan memaafkan sepenuhnya, karena yang kau cintai seringkali menyakiti hati.

Untuk keselamatanmu, hari ini aku tidak mengirimi kamu bunga kecuali seuntai manikam alfatihah

Di saat rindu, yang lain berlari untuk datang menghampiri, aku cukup menyentuh dada sebelah kiri.

Di sebuah taman, kita hanyalah sepasang kupu-kupu yg tersesat. Jika ada pertemuan, itu hanyalah keberuntungan sesaat.

Saat wajahmu memunggungi langit di sebuah senja, tak kulihat apa-apa selain kau berusaha menyembunyikan air mata.

hujan tiba lebih dulu, sebelum surat dari masa lalu itu, memindahkan butiran kata ke dalam matamu.

Yang terlupakan: percakapan kita. Sebuah elegi penuh luka, dengan kesedihan berkepanjangan.

segalanya masih akan bersamamu: angin yang tak pernah kausapa tetapi yang suka menyombongkan diri sebagai yang paling setia selama ini.

NEXT:

Kata Kata Bijak

Kata Kata Mutiara

Kata Kata Cinta

Lambaian kata kata kecewa sakit karena patah hati baru saja disuguhkan. Tak terasa waktu lampau saat dahulu pun kami pernah terbitkan kata kata lucu dan yang pasti akan anda dapatkan juga kata kata romantis mutiara cinta. Selebihnya anda bisa jelajahi ragam yang kami berikan semenjak dahulu.

Related Posts