Cerpen Islami : Mama, Ini mimpiku (Kisah)

 Islam

cerpen-islamiCerpen Islami pastinya isi dari cerpen ini adalah pesan agar kita umat muslim lebih mencintai agama Islam dan selalu berbuat lebih baik menuju islam yang lebih baik.

Mama, Ini mimpiku

Kehidupan di sebuah rumah besar bak istana itu selalu tenang dan tentram. Sebuah rumah bertingkat, dengan luas halaman yang hampir mencapai satu hektar hampir tak pernah terlihat ada aktifitas disana. Karena penghuninya yang sedikit dan jarang berada dirumah. Setiap harinya yang terlihat hanya satpam dan tukang kebun yang selalu berbincang di siang bolong. Sedangkan majikannya hanya terlihat saat pagi hari dan malam hari saja.

Keluarga yang dikaruniai tiga anak itu tidak pernah jauh dari kecukupan. Apa yang mereka inginkan segera terkabul dalam hitungan detik.

Tapi tidak dengan nasib si bungsu. kini ia masih duduk di kelas 2 SD. Fara, tidak seperti anak normal lainnya, ia kehilangan kaki kanannya karena keteledoran saat bersepeda satu tahun yang lalu. Dari kejadian itu ke dua orang tuanya semakin tidak memperhatikannya. Kadang, jika ada acara kondangan atau pesta keluarga di luar rumah, Fara jarang dan hampir tidak pernah di ajak, dengan alasan kesusahan mengajak anak pincang.

Ketidak sukaan orang tua Fara bukan karena ia pincang, tapi sejak Fara menolak di daftarkan ke kursus bahasa Mandarin dan sanggar tari terbesar dikotanya. Fara lebih memilih berdiam diri di rumah bersama pembantunya. Suatu malam, Fara menemui Ayah dan Ibunya yang sedang duduk diruang tamu.

Tergopoh-gopoh dari arah kamarnya, dengan wajah berbinar penuh harap, ia mendekat dan duduk disamping mamanya.

Sambutan yang di dapat pun tidak mengenakkan hati. Seperti tidak senang melihat anaknya mendekat, mereka lebih berpacu dengan laptop di depannya. Walau Fara sungkan dengan sikap Ayah dan Ibunya yang Acuh itu, tapi Fara tetap memberanikan diri untuk bicara. Fara meminta kepada Ayah dan Ibunya untuk mendaftarkan dirinya di Pondok pesanteren ternama di kotanya. Tapi mentah-mentah Ayah dan Ibunya menolak. Alsannya karena jauh dari rumah, Fara yang masih terlalu kecil untuk berpisah dengan orang tua, dan pemborosan uang. Sebuah alasan yang tidak masuk akal, tapi cukup menutup harapan si kecil Fara.

Perlahan ia pergi meninggalkan orang tuanya.

Isak tangis Fara di kamar di dengar oleh sang pembantu. Pembantunya pun masuk ke kamar Fara dan mencoba menghiburnya, kebetulan pembantunya bisa baca Al-qur’an dengan lancar, baik dan benar. Dengan wajah penuh harap, Fara meminta pembantunya untuk mengajarinya mengaji. Dan kegiatan itu berlangsung selama 5 tahun tanpa sepengetahuan Ayah dan Ibu Fara.

Kini Fara sudah duduk di bangku kelas 1 SMA. Sedangkan kedua kakak kembarnya, Joulin dan Laura duduk di kelas 2 SMA.

Dua kakak Fara ini tidak pernah suka dengan Fara, karena mereka selalu di ledek teman-temannya, mempunyai adik pincang yang tidak bisa bahasa Mandarin. Kebetulan mereka sekolah di sekolah berbasis bahasa Mandarin. Tidak hanya itu, kakak Fara tidak pernah suka melihat adiknya memakai rok panjang dan melaksanakan sholat Fardhu. Karena itu juga mereka di ledek teman-temannya. Teman-temannya bilang Fara itu kuno tidak modern, dan mereka ragu dengan dua kakaknya yang bisa jadi seperti Fara.

Hari demi hari Fara lalui dengan berat hati. Hingga suatu saat ia mendengar ada lomba hafalan Al-qur’an dengan hadiah bagi pemenang juara satu adalah belajar bahasa Arab geratis hingga lulus SMA, dan beasiswa ke Universitas Al-Azhar bagi pemenang yang konsisten menang 3 kali berturut-turut. Dengan semangat belajar menghafal Al-qur’an pun ia tekuni, sampai-sampai ayah dan ibunya tahu, dan melarang keras melanjutkan aktifitasnya itu, bahkan mengambil semua Al-qur’an dan Mushaf yang Fara punya. Tapi semangat Fara tidak pernah padam

Lomba pun tiba, kebetulan lomba hafalan Al-qur’an ini bersamaan dengan lomba pidato mandarin kakak Fara. Dan dengan bangganya Ayah dan Ibu fara meluangkan waktunya untuk mengantar lomba kakaknya, tadinya Fara di ajak, tapi dengan alas an sakit ia menolak ajakan itu, padahal karena ia akan mengahdiri lomba yang didambanya itu.

Dengan sangat kecewa Ayah dan Ibu Fara pulang dengan amarah besar karena Joulin tidak bisa masuk peringkat tiga besar, dan ditambah marah lagi saat mengetahui Fara tidak ada dirumah, satpam dan tukang kebun pun tidak ada yang tahu, karena Farad an pembantunya pergi tanpa pamit.

Pada waktu itu juga, mama Fara pingsan dan harus di larikan ke rumah sakit. Dokter mengatakan bahwa terdapat infeksi pada jantungnya, dan jantung itu harus di ganti, sedangkan di rumah sakit tidak menyediakan jantung pengganti. Kabar ini seperti petir, secept kilat terdengar oleh Fara dari satpam rumah. Ia pun meminta bantuan sopir untuk mengantarnya ke rumah sakit. Fara tidak menemui keluarganya melainkan menemui dokter yang menangani mamanya, disana terjadilah negosiasi.

Beberapa saat kemudian ditengah kebingungan Ayah dan si kembar, dokter datang membawa kabar baik bahwa ia baru saja dapat pendonor jantung, segera mungkin dokter dan team operasinya mengganti jantung mama dengan jantung yang baru.

Beberapa jam ayah dan si kembar menunggu hasil operasi dan hasilnya berhasil. Mereka tersenyum dan mengucap alhamdulialh, dan saat itu juga, mereka mengucap inalilah ketika pembantu mereka mengabarkan bahwa Fara meninggal dunia. Dengan hati yang kacau ayah Fara pulang untuk memastikan dan dirumah sudah terpenuhi dengan kunjungan tetangga dan kerabat. Sopirnya bercerita bahwa ia sempat mengantar Fara ke rumah sakit, dan saat sampai dirumah ternyata Fara sudah tidak bernafas.

Fara dikuburkan pada hari itu juga. Setelah mereka kembali ke rumah sakit, dokter langsung menemui kelurga Fara dan memberi identitas pendonor jantung. Subhanallah nama yang tercantum itu dan foto yang ada di Form itu adalah anak mereka yaitu Fara.

Dengan hati yang sangat menyesal, anak yang selama ini mereka sia-siakan adalah orang yang mau berkorban untuk nyawa ibunya, walaupun ia harus mati sekalipun.

7 hari setelah kematian, datanglah seorang panitia lomba hafalan Surat kerumah Fara ia membawa pengumuman lomba, bahwa Fara menjadi pemenang dalam lomba itu, dan dengan hormat ia di terima di Universitas Al-Azhar, ayah dan ibu Fara bertanya-tanya kenapa Fara sangat antusias dengan lomba ini? pembantunya dengan polos menjawab pertanyaan mereka, yaitu karena Impian terbesar Fara adalah bisa kuliah dan menjadi lulusan terbaik di Universitas Al-Azhar. Subhanallah.

Semoga ada hikmah di dalam cerpen islami diatas. Amiinnn.

Related Posts