Bacaan Doa Tahiyat Akhir (Arab, Latin & Artinya Lengkap)

Salah satu rukun dalam shalat yang harus dilakukan adalah tahiyat akhir. Ini adalah gerakan shalat sebelum melakukan salam sebagai tanda sempurnanya ibadah shalat yang sudah dikerjakan. Nah, tentu saja, demi kekhusyukan dan diterimanya ibadah shalat yang kita kerjakan, akan lebih baik jika kita memahami segenap doa tahiyat akhir dan membacanya dengan benar.

Pada kesempatan ini, kita akan membahas tentang bacaan tahiyat akhir yang sebaiknya anda tahu. Dengan mengetahui doa yang benar pada saat tahiyat akhir, tentu saja ibadah anda akan menjadi lebih sempurna dan dapat diterima oleh Allah SWT. Lantas, bagaimana bacaan tahiyat yang benar? Kami telah menyiapkannya untuk anda dibawah ini.

Namun sebelumnya, ada hal menarik yang perlu diketahui disamping doa tahiyat akhir ini. Ya, ternyata, ada manfaat menarik dari gerakan shalat yang satu ini. Tahiyat akhir memiliki beragam manfaat dari segi medis. Gerakan shalat yang satu ini adalah gerakan yang bisa menjadi kesehatan dengan cara membongkar proses pengapuran pada bagian kaki, terutama pada bagian cekukan kaki sebelah kiri. Nah, gerakan yang dilakukan akan senantiasa membuat saraf kita kembali seimbang. Saraf tersebut memiliki hubungan langsung dengan mata, sehingga tentu akan membantu kita untuk meningkatkan konsentrasi.

Selain itu, gerakan tahiyat bagi pria memberikan manfaat lain yang tidak kalah pentingnya. Gerakan ini sangat bagus sekali untuk melancarkan aliran di kandung kemih dan kandung kelamin pria atau prostat yang jika gerakan tersebut dilakukan dengan benar maka dapat mencegah terjadinya impotensi serta akan menjaga kelenturan dari organ tubuh lainnya.

Bagi anda yang lupa dengan bacaan dari tahiyat ini, kami sudah menyiapkan pedoman yang benar dibawah ini. Baca dan hayati setiap ayat yang terkandung didalam bacaan doa tersebut.

Tahiyat akhir yang benar beserta huruf ARAB – LATIN dan artinya

Bacaan Latin Tahiyat Akhir

Arti Bacaan Tahiyat Akhir

Sebelum membahas tentang bacaan doa tahiyat akhir, ada baiknya kita memahami cara duduknya. Tahiyat akhir dilakukan setelah sujud terakhir dan sebelum salam. Cara duduk tahiyat akhir mirip dengan cara duduk tahiyat awal atau duduk tawaruk. Hanya saja, jari kaki kiri diselipkan dibawah kaki kanan.

Adapun untuk bacaannya adalah sebagai berikut:

a) menurut riwayat Umar bin Khatab
“ATTAHIYYAATU LILLAAHIZ ZAKIYYATU LILLAAHITH THAYYIBAATUSH SHALAWAATU LILLAAH. ASSALAAMU’ALAIKA AYYUHAN NABIYYU WA RAHMATULLAAHI WA BARAKAATUH. ASSALAAMU’ALAINA WA ‘ALAA ‘IBAADILLAAHISH SHAALIHIIN. ASYHADU ANLAA ‘ILAAHA ILLALLAAH. WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAN ‘ABDUHU WA RASUULUHU.”

[Artinya]: “Segala penghormatan bagi Allah, segala kesucian bagi Allah, segala kebaikan dan kesejahteraan bagi Allah. Semoga keselamatan, rahmat dan barakah Allah senantiasa dilimpahkan kepadamu wahai Nabi (Muhammad). Semoga juga dilimpahkan kepada kami dan kepada semua hamba Allah yang shalih. Aku bersaksi sesungguhnya tiada Tuhan kecuali Allah, dan aku bersaksi sesungguhnya Nabi Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.” (HR. Malik dalam Muwaththa dengan sanad yang shahih)

Ini adalah bacaan pertama yang dipraktekan oleh Imam Malik. Meskipun hadist ini bersifat maufuq, namun dihukumi marfu’.

b) Menurut riwayat Ibnu Abbas

“ATTAHIYYAATUL MUBAARAKAATUSH SHALAWAATUTH THAYYIBAATU LILLAAH. ASSALAAMU’ALAIKA AYYUHAN NABIYYU WA RAHMATULLAAHI WA BARAKAATUH. ASSALAAMU’ALAINA WA ‘ALAA ‘IBAADILLAAHISH SHAALIHIIN. ASYHADU ANLAA ‘ILAAHA ILLALLAAH. WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAN ‘ABDUHU WA RASUULUHU.”

[Artinya]: “Segala penghormatan, keberkahan, kesejahteraan dan kebaikan bagi Allah. Semoga keselamatan, rahmat dan barakah Allah senantiasa dilimpahkan kepadamu wahai Nabi (Muhammad). Semoga juga dilimpahkan kepada kami dan kepada semua hamba Allah yang shalih. Aku bersaksi sesungguhnya tiada Tuhan kecuali Allah, dan aku bersaksi sesungguhnya Nabi Muhammad adalah utusan-Nya.” (HR. Muslim, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, At-Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Majah, Al-Baihaqi, Ad-Daruqutni, Ahmad, dan Syafi’i)

Bacaan kedua ini dibaca oleh Imam Syafi’i dan dipraktekkan oleh para pengikutnya.

c) Menurut riwayat Ibnu Umar

“AT-TAHIYYAATU LILLAHI WASH SHALAWAATU WATH THAYYIBAATU. ASSALAAMU’ALAIKA AYYUHAN NABIYYU WA RAHMATULLAAHI WA BARAKAATUH. ASSALAAMU’ALAINA WA ‘ALAA ‘IBAADILLAAHISH SHAALIHIIN. ASYHADU ANLAA ‘ILAAHA ILLALLAAH. WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAN ‘ABDUHU WA RASUULUHU.”

[Artinya]: “Segala penghormatan bagi Allah, segala kesejahteraan dan kebaikan bagi Allah. Semoga keselamatan, rahmat dan barakah Allah senantiasa dilimpahkan kepadamu wahai Nabi (Muhammad). Semoga juga dilimpahkan kepada kami dan kepada semua hamba Allah yang shalih. Aku bersaksi sesungguhnya tiada Tuhan kecuali Allah, dan aku bersaksi sesungguhnya Nabi Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.” (HR. Bukhari, Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban)

Bacaan tahiyat akhir ini dibaca oleh Iman Ats-Tsauri, Ulama Kufah dan juga para ahli hadist.

Ketiga bacaan diatas boleh diamalkan dalam setiap ibadah yang kita lakukan. Meskipun berbeda, namun ketiganya adalah benar untuk dilakukan. Setelah membaca bacaan tersebut, bacaan dilanjutkan dengan membaca shalawat Nabi Muhammad SAW, sebagai berikut:

a) Riwayat Imam Syafi’i dari Ka’ab bin Ajrah

“ALLAAHUMMA SHALLI ‘ALAA MUHAMMAD, WA ‘ALAA AALI MUHAMMAD. KAMAA SHALLAITA ‘ALAA IBRAAHIIM, WA ‘ALAA AALI IBRAAHIIM. WA BAARIK ‘ALAA MUHAMMAD WA ‘ALAA AALI MUHAMMAD. KAMAA BAARAKTA ‘ALAA IBRAAHIIM, WA ‘ALAA AALI IBRAAHIIM. INNAKA HAMIIDUM MAJIID.”

[Artinya]: “Ya Allah limpahkanlah kebahagiaan kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, sebagaimana Engkau telah memberi kebahagiaan kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya. Dan limpahkanlah keberkahan kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, sebagaimana Engkau telah memberi keberkahan kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Mulia.” (HR. Imam Syafi’i)

b) Riwayat Imam Ahmad

“ALLAAHUMMA SHALLI ‘ALAA MUHAMMAD, WA ‘ALAA AALI MUHAMMAD. KAMAA SHALLAITA ‘ALAA AALI IBRAAHIIM, INNAKA HAMIIDUM MAJIID. WA BAARIK ‘ALAA MUHAMMAD WA ‘ALAA AALI MUHAMMAD. KAMAA BAARAKTA ‘ALAA AALI IBRAAHIIM, INNAKA HAMIIDUM MAJIID.”

[Artinya]: “Ya Allah limpahkanlah kebahagiaan kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, sebagaimana Engkau telah memberi kebahagiaan kepada Nabi Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Mulia. Dan limpahkanlah keberkahan kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, sebagaimana Engkau telah memberi keberkahan kepada: keluarga Nabi Ibrahim. Sesungguhnya Enkau Maha Terpuji dan Maha Mulia.” (Musnad Imam Ahmad)
Kedua bacaan tersebut boleh dipakai salah satu. Meskipun berbeda, namun keduanya tetap syah digunakan dalam ibadah shalat.

Setelah membaca shalawat, ada tambahan bacaan yang membedakan bacaan tahiyat akhir dengan tahiyat awal, yakni doa memohon perlindungan kepada Allah SWT dari empat perkara. Adapun doa tersebut adalah:

“ALLAAHUMMA INNII A’UUDZUBIKA MIN ‘ADZAABI JAHANNAMA WA MIN ‘ADZAABIL QABRI WA MIN FITNATIL MAHYAA WAL MAMAATI WA MIN SYARRI FITNATIL MASIIHID DAJJAAL.”

[Artinya]: Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari siksa neraka jahannam, siksa kubur, fitnah kehidupan dan kematian dan dari fitnah dajjal. [Selanjutnya, hendaklah ia berdo’a memohon kebaikan untuk dirinya sesuai kepentingan].” (HR. Muslim, Abu ‘Awanah, An-Nasa’i dan Ibnul Jarud).

Tentu saja, doa tersebut wajib untuk dibaca pada saat tahiyat akhir demi kesempurnaan bacaan. Nah, demikian pembahasan mengenai doa tahiyat akhir, semoga dapat memberikan banyak manfaat untuk anda sekalian.